Tiket Pesawat Mahal, Asita Jateng Desak Maskapai Tambah Jadwal

SOLO – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Jateng mendorong maskapai membuka dan menambah frekuensi penerbangan ke Solo. Sebab sampai akhir tahun ini, Kota Solo banjir event besar. Artinya, demand terhadap jalur penerbangan ke Kota Bengawan sangat besar. Di sisi lain ini untuk menekan agar harga tiket yang saat ini masih mahal bisa turun.

“Oktober nanti ada event Solo Great Sale, November ada Haul Habib dan Muktamar Muhammadiyah, Desember adalah festive season. Nah, event-event ini jadi momentum maskapai bisa membuka penerbangan ke Solo. Kalau yang sudah ada, ditambah frekuensinya,” ungkap Penasihat Asita Jateng Daryono kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (28/9).

Menurut dia, tuntutan Solo sebagai Kota MICE wajib memberikan banyak pilihan frekuensi penerbangan ke Solo. Baik dari segi waktu maupun maskapai. Tujuannya, menggairahkan wisatawan domestik. Sampai saat ini, frekuensi penerbangan ke Kota Solo masih relatif minim. Padahal pascapandemi Covid-19, geliat masyarakat untuk berwisata cukup tinggi.

Problem lainnya, harga tiket pesawat juga masih belum terjangkau alias mahal. Daryono menyebut andaikata frekuensi penerbangan ke Solo semakin banyak, harapannya harga tiket bakal semakin melandai mendekati normal.

“Nanti akan ada penurunan harga tiket pesawat. Sehingga minat masyarakat untuk berwisata juga lebih terjangkau. Dan banyak pilihan maskapai. Nah, kami mendorong itu kepada maskapai-maskapai,” sambungnya.

Daryono yang juga ketua DPD Indonesia Congress and Convention Association (INCCA) Solo mengatakan, kalender event MICE di Kota Bengawan sampai akhir tahun nanti serapannya sangat besar. Momentum ini sekaligus menjadi prospek yang bagus bagi maskapai untuk membuka penerbangan ke Solo. Dengan adanya jalur penerbangan ke Solo, otomatis ada kunjungan wisata. Baik leisure untuk wisatawan yang berlibur. Maupun kunjungan bisnis.

“Sehingga pergerakan manusia akan meningkat. Perputaran ekonomi juga ikut terdongkrak. Secara demand, penerbangan ke Solo sangat besar. Karena selama pandemi masyarakat dilarang berwisata. Tapi minimal maskapai melakukan penurunan harga tiket. Sehingga dapat menjangkau masyarakat untuk melakukan perjalanan udara. Khususnya leisure,” bebernya.

Daryono menambahkan, wisatawan leisure wajib diperhatikan. Sebab berbeda dengan wisatawan bisnis yang sudah ter-budget. Cost wisatawan leisure bakal meroket jika harga tiket pesawat masih mahal. Ini membuat tidak ada pemerataan wisatawan di Kota Bengawan.

“Selama ini rutenya hanya Solo-Jakarta. Harapannya penerbangan Jakarta ditambah lagi frekuensinya. Masih memungkinkan untuk ditambahkan ke Jakarta. Karena kan untuk meeting-nya banyak diadakan di Jakarta. Rute Jakarta sudah bagus. Di luar Jakarta pun akan lebih bagus,” tandasnya. (aya/bun/dam)

Leave a Comment